Kamis, 22 April 2010

10 cara meyakini keberadaan tuhan

  1. Iman Yang Tak Terhindarkan

    Setiap orang mempercayai sesuatu. Tidak seorang pun yang dapat menanggung tekanan dan masalah hidup tanpa beriman kepada sesuatu yang tak sepenuhnya dapat dibuktikan. Orang atheis tidak dapat membuktikan bahwa Allah tidak ada. Orang pantheis tidak dapat membuktikan bahwa segala sesuatu adalah Allah. Kaum pragmatis tidak dapat membuktikan asumsi mereka bahwa sesuatu dianggap penting karena bermanfaat bagi mereka. Orang agnotis pun tidak dapat membuktikan bahwa Allah tidak mungkin diketahui. Iman tidak dapat dihindari, sekalipun jika kita memilih untuk hanya percaya pada diri kita sendiri. Sesungguhnya apa yang kita putuskan adalah mengenai bukti yang kita anggap paling cocok, bagaimana kita menafsirkan bukti tersebut, dan siapa atau apa yang kita ingin percayai (Lukas 16:16).

  2. Keterbatasan Ilmu Pengetahuan

    Metode ilmu pengetahuan terbatas oleh suatu proses yang terukur dan dapat diulang, sehingga ia tidak dapat berbicara tentang asal usul kehidupan, makna dan moralitas. Untuk menjawab hal-hal itu, ilmu pengetahuan bergantung pada nilai dan keyakinan pribadi dari mereka yang menggunakan ilmu tersebut, dan karena itu pula, ia sangat berpotensi baik untuk kebaikan maupun kejahatan. Ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk membuat vaksin atau racun, membuat tenaga nuklir untuk tanaman atau persenjataan, untuk melestarikan lingkungan hidup atau mencemarinya, bahkan untuk memuliakan Allah maupun melawan Allah. Ilmu pengetahuan itu sendiri tidak mampu memberikan bimbingan moral atau nilai-nilai untuk mengatur hidup kita. Apa yang dapat dilakukannya adalah memperlihatkan kepada kita bagaimana cara kerja hukum alam, tetapi tidak dapat menjelaskan apa-apa tentang asal-usulnya.

  3. Masalah-Masalah Evolusi

    Banyak orang berasumsi bahwa teori evolusi tentang kehidupan membuat Allah tidak dibutuhkan. Pandangan demikian mengabaikan beberapa hal. Jika kita berasumsi suatu saat nanti ilmuwan menemukan cukup banyak "rantai yang hilang" untuk mengkonfirmasi bahwa kehidupan muncul dan berkembang secara bertahap dalam rentang waktu yang panjang, hukum-hukum probabilitas tetap memperlihatkan bahwa kita membutuhkan Sang Pencipta. Karena itu pula banyak ilmuwan yang percaya kepada teori evolusi juga percaya bahwa alam semesta yang sedemikian besar dan kompleks ini tidak "terjadi begitu saja". Mereka mau tidak mau harus mengakui kemungkinan, atau bahkan kepastian, adanya Perancang berintelijensi tinggi yang menyediakan segala unsur untuk hidup dan yang menetapkan hukum-hukum agar semua unsur itu dapat berkembang.

  4. Kecenderungan-Kecenderungan Hati

    Umat manusia pada dasarnya adalah makhluk religius. Pada saat mengalami kejutan atau kesusahan mendadak, ketika berdoa atau mengumpat, seseorang biasanya merujuk pada hal-hal yang ilahi. Mereka yang menganggap gejala ini sebagai kebiasaan buruk atau penyimpangan sosial malah diperhadapkan pada banyak pertanyaan yang tak terjawab. Menyangkal keberadaan Allah tidaklah dapat menghilangkan misteri kehidupan. Walau kita mencoba mengeluarkan Allah dari kehidupan sehari-hari, kita tidak akan dapat menghalau kerinduan kita kepada kehidupan yang lebih baik dari kehidupan saat ini (Pengkotbah 3:11). Ada sesuatu tentang kebenaran, keindahan, dan cinta yang membuat hati kita nyeri. Bahkan dalam kemarahan kita kepada Allah yang mengijinkan ketidak-adilan dan sakit-penyakit, kita sesungguhnya sedang menggunakan suatu kesadaran moral untuk berargumentasi bahwa kehidupan saat ini tidak berjalan sebagaimana seharusnya (Roma 2:14-15). Sekalipun tanpa sengaja, kita sesungguhnya sedang mencari sesuatu yang lebih baik, bukannya yang lebih buruk, dari diri kita sendiri.

  5. Latar Belakang Kitab Kejadian

    Dengan membaca sekilas, kata-kata pembukaan Alkitab tampaknya berasumsi bahwa Allah itu ada. Bagaimana pun kitab Kejadian ditulis pada waktu tertentu dalam sejarah. Musa menulis kalimat, "Pada mulanya Allah," sesudah bangsa Israel keluar dari Mesir. Dia menulis hal itu sesudah terjadinya pelbagai peristiwa mujizat yang disaksikan oleh jutaan orang Israel dan Mesir. Dari kitab Keluaran sampai kedatangan Mesias, Allah yang diceritakan Alkitab membuktikan diri-Nya ada melalui peristiwa-peristwa yang dapat disaksikan di dalam waktu dan tempat yang nyata. Siapa pun yang meragukan klaim-klaim tersebut dapat mengunjungi tempat-tempat dan orang-orang yang nyata untuk membuktikannya bagi diri mereka sendiri.

  6. Bangsa Israel

    Israel sering digunakan sebagai argumentasi untuk melawan Allah. Banyak orang sulit percaya pada Allah yang bersikap memihak pada satu "umat pilihan." Ada lagi yang lebih sulit percaya pada Allah yang tidak melindungi "bangsa pilihan-Nya" dari kamar-kamar gas Nazi di Auschwitz dan Dachau. Tetapi sesungguhnya semenjak Perjanjian Lama, masa depan Israel telah dinubuatkan. Seperti nabi-nabi lain, Musa menubuatkan bukan saja bahwa Israel akan memiliki tanah perjanjian, tetapi bahwa mereka akan mengalami penderitaan yang tak terkira, tersebar ke seluruh pelosok bumi, pertobatan mereka kepada Allah, dan pemulihan mereka pada akhir jaman (Ulangan 28-34; Yesaya 2:1-5; Yehezkiel 37-38).

  7. Klaim-Klaim Tentang Kristus

    Banyak orang yang mulanya ragu pada keberadaan Allah telah kembali meyakinkan diri mereka dengan pemikiran, "Jika Allah ingin kita percaya kepada-Nya, Dia pasti akan menyatakan diri-Nya kepada kita." Menurut Alkitab, itulah yang Allah lakukan. Pada abad ke-7 SM, nabi Yesaya bernubuat bahwa Allah akan memberi umat-Nya suatu tanda. Seorang perawan akan melahirkan seorang Anak laki-laki yang akan disebut "Allah beserta kita" (Yesaya 7:14; Matius 1:23). Bahwa Anak ini juga akan disebut "Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai" (Yesaya 9:5). Dan bahwa Dia akan mati untuk dosa-dosa umat-Nya dan kemudian Dia akan melihat hidup-Nya dihormati dan dipermuliakan (Yesaya 53). Menurut Perjanjian Baru, Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Mesias. Di bawah pemerintahan Gubernur Romawi yang bernama Pontius Pilatus, Dia disalibkan dengan tuduhan bahwa Dia mengklaim diri-Nya sebagai Raja Israel dan bahwa Dia telah menyamakan Diri-Nya setara dengan Allah (Yohanes 5:18).

  8. Bukti Dari Mukjizat-Mukjizat

    Sejumlah laporan dari para pengikut Yesus yang mula-mula sepakat bahwa Yesus bukan hanya mengklaim diri sebagai Mesias yang sudah lama dinantikan. Para saksi ini mengatakan bahwa Dia dipercaya oleh mereka karena Dia menyembuhkan orang lumpuh, berjalan di atas air, kemudian secara sukarela mengalami kematian yang menyakitkan dan yang tidak patut Dia terima, dan akhirnya Dia bangkit dari kematian (I Korintus 15:1-8). Yang paling tidak terbantah adalah klaim mereka bahwa banyak saksi telah melihat dan berbicara dengan Kristus setelah kubur-Nya ditemukan kosong dan sebelum menyaksikan dengan mata kepala sendiri Dia naik ke surga. Para saksi ini tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari klaim-kaim yang mereka buat. Mereka tidak mengharapkan kekayaan harta-benda atau kekuasaan. Bahkan banyak dari mereka yang mati martir, tetapi sampai akhir hayat mereka tetap mengklaim bahwa Mesias yang dinantikan bangsa Israel telah hadir di tengah mereka, bahwa Dia telah menjadi korban penebusan dosa, dan bahwa Dia telah bangkit dari kematian untuk meyakinkan mereka bahwa Dia mampu membawa mereka kepada Allah.

  9. Detil-Detil Dari Alam Semesta

    Ada orang yang percaya kepada Allah tetapi tidak menganggap keberadaan-Nya secara serius. Mereka beralasan bahwa Allah yang cukup besar untuk menciptakan alam semesta ini pasti terlalu besar untuk memperhatikan kita. Sebaliknya Yesus justru memperkuat apa yang alam ini hendak katakan melalui rancangan dan detil-detilnya. Yesus memperlihatkan bahwa Allah cukup besar untuk memperhatikan detil hidup kita yang paling kecil sekalipun. Dia berbicara mengenai Allah yang tahu bukan saja setiap tindakan kita, tetapi juga motivasi dan pikiran-pikiran dalam benak kita. Yesus mengajarkan bahwa Allah tahu jumlah rambut di kepala kita, keinginan-keinginan hati kita, dan bahkan keadaan seekor burung pipit yang terjatuh ke bumi (Mazmur 139; Matius 6).

  10. Kenyataan Dari Pengalaman

    Alkitab berkata bahwa Allah merancang hidup kita sedemikian rupa sehingga kita terdorong untuk mencari Dia (Kisah Para Rasul 17:26). Bagi mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia, Alkitab juga berkata bahwa Allah cukup dekat untuk ditemukan (ayat 27). Menurut Rasul Paulus, Allah adalah Roh yang di dalam-Nya "kita hidup, kita bergerak, dan kita ada," (ayat 28). Tetapi Alkitab juga sangat jelas mengajarkan bahwa kita harus menghampiri Allah sesuai dengan cara-cara Allah, bukan menurut kemauan kita sendiri. Dia berjanji untuk dapat ditemui, bukan oleh setiap orang, tetapi oleh mereka yang mengakui kebutuhan mereka dan yang bersedia sungguh-sungguh percaya kepada Allah dan bukan percaya kepada diri mereka sendiri.

  11. Anda Tidak Sendirian jika anda dapat mengakui keberadaan Allah tetapi ragu-ragu apakah anda dapat menerima klaim Yesus bahwa Dia adalah "Allah yang menjadi manusia". Orang dari Nazaret ini berjanji menolong mereka yang ingin melakukan kehendak Allah. Dia berkata, "Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari Diriku sendiri," (Yohanes 7:17).

    Jika Anda percaya pada bukti tentang Allah yang menyatakan diri-Nya kepada kita melalui Anak-Nya, anda perlu mengingat perkataan Alkitab bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa kita, dan bahwa siapa pun yang percaya kepada-Nya akan menerima pengampunan dosa dan kehidupan kekal. Keselamatan yang ditawarkan Kristus bukanlah upah untuk usaha kita, tetapi suatu anugerah bagi mereka, yang melalui bukti-bukti yang tersedia, mau percaya kepada Dia






0 komentar:

Poskan Komentar

Followers